Cerpen berdasarkan pengalaman orang lain.

FACEBOOK

Putri Arinda Y .A

Tinggg….!!!! tinggg….!!!! Suara nyaring dari bel pulang sudah terdengar, siswa pun langsung bersiap untuk pulang dan beristirahat. Tapi tidak dengan empat sekawan yang masih duduk di bangku kelas XI ini, seperti biasa mereka langsung menuju kantin bik Surti. Aroma makanan dari kantin sudah menanti kedatangan mereka berempat.

“Selamat siang bik!” sapa Dita dengan ramah. “ya neng, selamat siang. Ngomong-ngomong mau pesan apa neng.,??”, “ah bibik kayak nggak tahu aja, seperti biasa bik !! empat porsi mi instan dan jus jeruk!” jawab Ayi. “ohh oke-oke, sebentar ya!!”. Itulah mereka Nana, Vivi , Ayi, dan Dita, empat sekawan yang hampir tiap hari menjadi pelanggan setia di kantin bik Surti. Sembari menunggu pesanan, mereka pasti mengobrol tentang artis-artis korea yang sedang populer saat ini. Namun kali ini berbeda, Vivi mengajak ketiga sahabatnya itu untuk ikut berlibur kerumah pamannya, Vivi pun sudah minta izin sama om Arya untuk mengajak ketiga sahabatnya tersebut, tentu saja om Arya tak bisa menolak keinginan keponakan kesayangannya itu. Tak lama, “maaf neng mengganggu, ini pesanannya” bik Surti menyodorkan makanan favorit keempat anak tersebut. “Oh iya bik makasih ya bik!” jawab Nana dan Ayi. Vivi pun melanjutkan tawarannya tadi, “gimana ni, kalian ikut nggak? Lagi pula kan setelah pembagian raport nanti kita akan libur panjang.,!!” rayu nya. “emm gimana ya, nanti deh aku tanya dulu sama ayah ku.” Jawab Nana, “iya- iya aku juga deh” sambung Dita dan Ayi .

Keesokan harinya, Dita, Ayi dan Nana yang sedang bersantai dikagetkan dengan suara nyaring vivi dari kejauhan, “ehh ehh gimana nih jadi kan?” Vivi menanyakan lagi tawarannya. “ohh iya dong!!” jawab ketiganya. Hari yang dinanti pun tiba, “ayo anak-anak masuk ke mobil! Kita berangkat, jangan lupa cek barang-barang kalian!!” Suara setengah baya dari dalam mobil paman Vivi terdengar, mereka pun mulai bergegas menata barang mereka ke dalam bagasi mobil.

Tujuh jam berlalu, perjalanan pun berakhir di sebuah rumah sederhana berpagar biru, yang tampak sunyi dan sepi termakan heningnya malam. “Nah kita sampai, ayo bangun-bangun kita sudah sampai!!!”,“hhuammm, iya-iya om” suara yang masih sayup terdengar dari keempat anak yang masih mengantuk. Mereka tak peduli dengan suasana yang sunyi dan dinginnya hembusan angin malam yang menerpa, di pikiran mereka hanyalah menata barang ke dalam kamar dan beristirahat menanti fajar.

Kringgggg..,.,!!! suara nyaring yang berisik dari jam waker kecil menunjukkan pukul 06.10 pagi yang memaksa mereka untuk segera beranjak dari tempat tidur yang tak begitu luas itu. Dari luar kamar terdengar suara bising seorang anak kecil yang semakin memaksa mereka untuk bangun dan keluar, Vivi langsung bergegas keluar kamar dan memeluk erat pria kecil itu, “ehh main samber aja Vi, siapa tu lucu banget” Dita mengelus pipi pria kecil itu. “oh iya ini Jimi anak om Arya” jelasnya.”Udah deh jangan banyak basa-basi, buruan mandi!!” gertak Vivi, “loh emangnya mau ngapain buru-buru banget?” sahut Nana. “Lihat saja nanti!!” kata-kata Vivi semakin membuat mereka bertiga penasaran dan langsung buru-buru untuk mandi. Setelah beberapa jam kemudian,” ehmm kayaknya udah pada rapi nih, udah siap kan? Yuk berangkat!” Vivi langsung menuju ke sebuah taxi yang telah sejak tadi dipesannya, “ ehh tunggu-tunggu, kamu belum jawab pertanyaan Nana Vi, emangnya kita mau kemana?” seru Ayi. “Aku mau ajak kalian ke toko buku, yuk naik! Kasian tuh supirnya udah kelamaan nunggu kalian yang bawel” gertak Vivi sekali lagi.

Sesampainya, Vivi langsung mengajak ketiga sahabatnya itu menuju ke buku-buku khusus novel, sehingga mereka terlihat asik sendiri memilih buku favorit mereka. Nana kaget saat melihat seorang laki-laki yang putih dan tampan, dan tak sadar Nana mengikuti laki-laki itu, Vivi, Dita dan Ayi kaget melihat Nana yang tak lagi berada di samping mereka,

“ehh Dita, Vivi kalian lihat Nana nggak?” Ayi panik. “Oh iya Nana kemana ya? Cari yuk!” Dita yang juga ikut-ikutan panik langsung menarik kedua tangan sahabatnya itu. “ehh itu Nana, dia lagi ngeliatin siapa tuh?” seru Ayi. “eh iya kagetin yuk!” aksi jahil Vivi, Dita dan Ayi pun muncul.” Nah ayo lagi ngeliatin siapa tuh?? hahaha” ejek Ayi. “hei kalian kok ada disini? Udah lama ya??” Nana kaget dan terbata-bata melihat ketiga sahabatnya itu berada di belakangnya dan langsung mengalihkan pembicaraan teman-temannya itu,” udah deh, udah dapetkan bukunya?!” ajaknya.

Di rumah, Dita, Vivi dan Ayi masih tampak penasaran dengan sikap aneh Nana di toko buku, “ehh Na ngaku deh, kamu lagi ngeliatin siapa sih tadi?” tanya Dita penasaran, “ahh nggak kok, aku nggak ngeliat apa-apa tadi”,  Nana tersenyum sumringah memandangi foto pria yang sengaja ia ambil lewat handphonenya di toko buku tadi, “ahh kamu bohong! tuh foto cowok yang ditoko buku tadi kan? “ Vivi mengendap di belakang Nana yang masih tampak serius memandang foto itu. “Mana-mana liat dong!!” Ayi dan Dita ikut mendekat. “Eh kalian apa-apaan sih nggak sopan banget”,”cie-cie yang lagi kasmaran hahahha” ejek ketiga sahabatnya itu. “udah deh ngaku aja, siapa sih dia?” desak Dita. Nana semakin terdesak, semakin ia menolak untuk mengaku mereka semakin memaksanya untuk memberi tahu, saat ia semakin tersudut akhirnya Nana pun menyerah “ya udah deh ni liat, kalian sadar nggak cowok ini mirip banget sama artis korea No Min Wo, tapi sayang dia agak sedikit kurang tinggi di banding No Min Wo” tegasnya, “oh iya bener-bener, mirip banget, tapi tunggu-tunggu kayaknya aku kenal deh sama dia..” Ayi diam sejenak dan memikirkan pria yang di duga mirip artis korea itu, “ ohh iya itu kan kak Semi, kakak kelas kita masak kalian nggak tahu sih!”tegasnya semangat. “Ehh yang bener aja dong masak sih? Kok aku nggak pernah lihat?!” Nana heran. “ahh itu sih kamunya aja yang jarang keluar kelas, selain ke kantin” ejek Ayi.

Pada malam harinya, Nana membuka laptopnya dan mulai masuk ke akun facebooknya. Ia kaget lantaran ada seseorang yang menyapanya lewat akun facebooknya “Rayhan Mandala : hai Na apa kabar? Masih inget nggak sama aku?”sapa orang itu, “Shena Ramadhania : ehh Ray kau kah itu, apa kabar? Lama ya nggak bertemu, ngomong-ngomong sekarang kamu tinggal dimana?” Nana tampak sangat senang bisa mengobrol lagi dengan sahabat karibnya sewaktu kecil yang sering ia panggil dengan sapaan Ray, “Rayhan Mandala : oh aku baik kok, sekarang aku ikut papaku tinggal di Depok. Kamu sendiri gimana?”. Tapi disela-sela obrolannya terdengar suara nyaring Vivi dari depan pintu kamar, “eh Na, facebookkan mulu!? yuk kedapur, masakan istri om Arya udah nunggu tuh, sayang dong kalo dingin!”, “ohh iya sebentar”, Nana segera menutup obrolannya dengan Ray,  “aku juga baik, eh Ray udah dulu ya, aku udah di panggil temen-temen aku nih! Oh ya ni nomor handphone aku Ray 0853 83xx xxxx,  kita bisa mengobrol lebih akrab lewat nomor itu”.”emmm ya udah deh nggak papa”. Nana langsung menutup laptopnya, dan bergegas menghampiri teman-temannya.

Sudah hampir seminggu mereka berada di rumah om Arya mereka pun memutuskan untuk segera pulang. “Ehh yakin kalian udah mau pulang?” om Arya bertanya lagi pada keempat anak itu, “iya dong om, kita kan masih banyak tugas yang harus dikerjakan” jawab Nana, “iya ni om sekolahnya sih emang libur, tapi tugas inilah, itulah masih aja numpuk, nggak ada liburnya” sambung Vivi semangat, “wah kalo gitu sama aja dengan nggak libur dong, iya kan?!hahha”, “iya-iya bener om” Ayi yang langsung mangacungkan tangan tanda setuju.

Beberapa hari berikutnya, Tinggg….!!!! Tinggg….!!!! bel masuk berbunyi dan mereka berempat pun langsung menuju ke kelas. Saat di kelas Nana tampak kurang fokus memperhatikan pelajaran, pikirannya buyar memikirkan kak Semi. Sampai jam pelajaran berakhir dan berganti dengan jam istirahat, Nana masih duduk terdiam di bangkunya, tampak sekali dari raut wajahnya yang masih memendam rasa penasaran di dalam pikirannya. Vivi menghampiri Nana dan mengajaknya ke kantin, semula Nana memang menolak tapi setelah mendengar iming-iming Vivi tentang kak Semi, “ohh iya-iya tunggu! aku ikut!” Nana langsung bersemangat dan berubah pikiran, “masak sih, cepet banget berubah pikiran, bukannya tadi nggak mau ya.,” ledek Vivi sambil tersenyum-senyum. “Udah ayo buruan!!”. Di perjalanan menuju kantin Nana menceritakan tentang Ray sahabat kecilnya yang menyapanya lewat akun facebook. “wah seneng dong bisa ketemu sama sahabat kecil, awas aja kalau lupa sama sahabat yang sekarang” gerutu Dita, “ahh kamu Dit, ya nggak dong, kalian semua itu adalah sahabatku mana mungkin aku bisa lupa sama kalian.,” hiburnya, “iya Nana cantik kita percaya kok sama kamu. Udah yuk buruan!” sambung Ayi.

Ternyata benar di kantin ada kak Semi, Nana tak bisa mengalihkan pandangannya dari kak Semi, ia sangat mengidolakan No Min Wo. Tak ada yang asli KW  pun jadi ujarnya. Ia memilih bangku tepat di depan kak Semi dan tak bisa memalingkan pandangannya dari No Min Wo KW itu, tapi ada sesuatu yang menggangu pandangannya, ada seorang wanita di sebelah kak Semi yang di bajunya terpampang nama Maya, tapi ia tak mempedulikan wanita itu ia berpikir mungkin mereka hanya teman akrab sama sepertinya dan Ray, sampai ia tersadar kak Semi juga memperhatikannya, Nana menjadi salah tingkah wajahnya memerah, jantungnya berdebar kencang, seketika ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan. Bel masuk berbunyi wajah memerah masih memancar dari Nana,  jantungnya masih berdebar kencang hingga bel pulang bergemuruh.

Senja datang menjemput malam, Nana kembali membuka facebooknya, entah kenapa raut wajahnya langsung berubah ketika ia melihat sesuatu yang tak di harapkannya. Tapi Ray kembali menyapanya lewat chat,”Rayhan Mandala : hai Na ketemu lagi nih”, “oh Ray, iya ni, kamu lagi ngapain?” balas Nana, “ohh nggak lagi ngapa-ngapain kok, Cuma lagi cari temen ngobrol aja, eh kebetulan ada kamu”, ” ahh Ray kamu bisa aja, tapi Ray sejujurnya aku lagi nggak ada mood untuk mengobrol”, “loh kenapa? Apa kamu lagi ada masalah? cerita aja sama aku, mungkin aku bisa membantu mengatasi masalahmu, tak perlu sungkan kawan aku akan selalu ada jika kamu butuh aku”, ”makasih ya Ray tapi aku pikir nanti saja ya Ray, aku akan menceritakannya lewat telepon”, “ohh iya Na aku tunggu ya!”. Tak lama Ray mematikan laptopnya, krinngg…..kringgg….handphonenya berbunyi ia langsung menyambar handphone itu dari atas meja belajarnya, jelas saja itu adalah Nana.

“Nana ?” Ray kaget ia mendengar suara tangisan seorang gadis dari telepon yang diterimanya, terdengar jelas itu adalah suara Nana, “Na kau kenapa? Jika kau merasa belum siap untuk menceritakannya, kau boleh menundanya…” Ray menjadi khawatir terhadap Nana tapi, tak lama suara sendu terdengar dari handphone itu, “Begini Ray sejak pertama aku melihat kak Semi yang menurutku sangat mirip dengan No Min Wo, aku mulai tertarik padanya. Semua waktuku hampir habis tersita karena No Min Wo KW itu, baru saja aku membuka akun facebookku. Tapi kejanggalan terjadi, aku  meli….” tuttt, tutt, tuttt.  Di tengah-tengah cerita, HP Nana mendadak mati karena baterai yang lemah. “e..e..Halo.,Na.,loh kok mati?, ya sudahlah mungkin Nana sedang ada keperluan mendadak”, Ray mencoba untuk mengerti, ia memutuskan bertanya pada malam berikutnya, iya selalu menghubungi Nana pada malam hari, karena ia tahu Nana pasti masih sibuk disekolah pada siang maupun sore hari. Malam berganti Ray menelpon Nana, “hai Na apa kamu udah baikan? terus gimana kelanjutan dari ceritamu?”, “ohh iya Ray maaf ya telpon kita harus terputus karena baterai HP ku yang melemah dan akhirnya mati”, “ohh nggak masalah Na, aku bisa mengerti itu”. “Ku ulangi ya jadi gini Ray sejak pertama aku melihat kak Semi, aku mulai tertarik padanya. Semua waktuku hampir habis tersita karena No Min Wo KW itu, aku kembali membuka akun facebookku. Tapi kejanggalan terjadi, aku  melihat percakapan kak Semi dengan seorang wanita cantik berkulit putih, “hah apa bener itu Maya?. Kak Semi kayaknya akrab banget dengan gadis itu” aku menggerutu dalam hatiku, aku semakin penasaran, semakin dalam aku menelusuri ternyata benar dugaanku Maya adalah pacar kak Semi yang menjadi incaranku selama ini.” Ahh Na untuk apa kamu mikirin dia, masih banyak pria yang lebih baik darinya” sahut Ray,” kamu benar Ray, mungkin itu adalah hal paling bodoh dalam hidupku, tapi makasih ya Ray, kamu memang sahabat terbaikku”, “ah Na bisa aja kamu, BTW udah dulu ya, aku harus belajar ni, ada banyak tugas sekolah yang menuntutku untuk segera menyelesaikan tugas-tugas itu..”,”ohh ya Ray”, malam itu di lalui Nana dengan perasaan yang campur aduk.

Nana masih kecewa dengan kak Semi yang ternyata telah memiliki pacar. Sejak saat itu Nana putus harapan, ia berusaha mengalihkan segala hal tentang kak Semi. Bel pulang berbunyi empat sekawan itu langsung menuju ke tempat bik Surti, Nana sangat tak bersemangat, tentunya tingkah Nana yang menjadi aneh menimbulkan kecurigaan pada ketiga sahabatnya, “eh Na kamu kenapa? Cemberut aja” sapa ketiga sahabatnya itu. “kalian tahu nggak cewek yang namanya Maya? Pacarnya Kak Semi”, “apa kak Semi sudah punya pacar?? Kata siapa?”Dita kaget.”ya kata facebooklah” jawabnya agak sedikit kesal. “Udah lupain aja No Min Wo KW itu, siapa tahu, nanti dapet No Min Wo yang asli, iya nggak Vi?, hahaha” hibur Dita, “ahh bisa aja kamu Dit” Nana jadi tersenyum malu di depan ketiga sahabatnya.

Setelah di rumah, telepon Nana kembali berdering, “ohh kamu Ray, aku senang Ray bisa mengobrol lagi denganmu, ngomong-ngomong makasih ya kamu udah mau dengerin cerita aku malam itu!”,”ahh Na makasih untuk apa, nggak usah lebay de Na. Kamu nggak perlu sungkan sama aku nona cantik”,”bisa aja kamu Ray”. Tapi suasana itu berubah seketika saat Ray mengatakan sesuatu pada Nana, “e..Na sebenarnya sejak kita bersahabat waktu kecil, aku sudah mengaggumimu, kamu adalah wanita terbaik yang aku temui selama ini, aku sangat senang bisa bertemu dan bersahabat denganmu, tapi kalau boleh jujur aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat Na.,”, “Maksud kamu apa Ray?” perasaan Nana menjadi campur aduk ia tak bisa lagi berkata-kata.”aku mau kamu jadi pacar aku Na, kamu mau kan?”. Perasaan Nana semakin campur aduk ia bingung, mulutnya tak bisa mengeluarkan kata-kata,” Na kamu masih disanakan? Kenapa kamu diam? Apa jangan-jangan kamu masih memikirkan No Min Wo KW mu itu?” gertaknya. “ahh Ray tentu saja tidak, tapi apa kamu yakin dengan ucapan mu itu? Kau tidak sedang bermain-main kan?”, “ahh tampaknya kau masih kurang yakin pada ku Na, kita sudah saling mengenal sejak kecil, tapi baru kali ini aku seserius ini padamu. Apa kau perlu bukti untuk itu?”,” Ray bukan itu maksudku, aku percaya padamu, tapi begini jika kau benar yakin dengan keputusanmu maka aku juga mau…” belum selesai Nana bicara tapi suara Ray yang langsung menyambar yang seketika memotong kata-kata Nana, ”jadi maksudmu kau menjawab iya begitu?”, “mungkin aku bisa mencoba Ray.,” Ray sangat senang, tapi ia harus memastikan lagi kalau Nana benar-benar tulus menerimanya “ sebelumnya terimakasih ya Na, tapi aku harap kau menerimaku tulus dari hatimu, bukan sebagai pelampiasan kekecewaan karena No Min Wo KW itu,.”, “tentu saja aku tulus, lagi pula untuk apa aku terus memikirkan orang yang jelas-jelas telah menjadi milik orang lain”,”sekali lagi terimakasih ya nona cantik”. Rasa kecewa kini pudar, Nana sadar ia tak boleh egois, tak semua hal yang ia inginkan harus ia dapatkan. Nana sengaja tak menceritakan hubungannya dengan Ray pada sahabat-sahabatnya. Tapi sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Saat Vivi membuka akun facebooknya ia melihat akun facebook Ray yang terpampang jelas nama Nana di foto sampulnya. Semua di luar dugaan, Nana tertangkap basah ia tak bisa mengelak lagi. Ia tersipu malu di depan sahabatnya dan akhirnya menceritakan semuanya kepada Ayi, Dita, dan Vivi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s